dilema open source? yang bener ajah


Dapet dari milis linux-aktifis, pak dudi posting tentang tulisan pak Tony Seno, CTO Microsoft Indonesia “Dilema Open Source di Indonesia“. Komen dikit ah, lucu soalnya tulisannya (excluding bahwa beliau adalah seorang CTO)

Perangkat lunak non-open source komersial harganya tidak murah, tetapi orang tetap membelinya karena beberapa alasan :

  • gampang installnya
  • driver hardwarenya sangat lengkap
  • kalau ada masalah apapun akan ada yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan
  • semua jenis aplikasi tersedia

Gampang Installnya ? iya sih, say, windows memang installnya gampang, tapi linux juga gampang kok pak. belum pernah pake linux ya? dan belum pernah pake yum, apt-get dkk mesti

driver hardwarenya sangat lengkap? sumple lo? liat laptop baru pak dukungan driver dari vendor untuk XP udah banyak yang ilang. Ya, Alasan bisnisnya pasti untuk pindah ke vista, biar vista laku, but vista sucks, mending pake XP, lha kalau mau beli laptop baru gak ada driver XP nya gimana coba? OK laptop memang cuma secuil dari sekian banyak hardware tapi ini contoh bahwa drivernya gak lengkap.

kalau ada masalah apapun akan ada yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan, yakin pak? bagaimana penyelesaiannya? apakah diminta nunggu service pack berikutnya atau update berikutnya itu dinamakan bertanggung jawab untuk menyelesaikan, update di dunia opensource jauh lebih cepat pak karena banyak yang ikut serta

semua jenis aplikasi tersedia, maksudnya apa ya? boleh tau aplikasi proprietary mana yang versi open sourcenya gak ada?

Beberapa hal di atas merupakan tantangan besar untuk perangkat lunak Open Source yang gratis, karena :

  • proses installnya lebih rumit (dan biasanya selalu memerlukan sambungan Internet)
  • driver tidak selalu tersedia (apalagi pada perangkat hardware yang baru)
  • kalau
    ada masalah, yang akan membantu adalah komunitas, dan tidak ada jaminan
    kapan masalahnya bisa terpecahkan (apalagi jika masalahnya baru)
  • aplikasi-aplikasi tertentu tidak tersedia. Kalaupun ada, mungkin masih dalam bentuk eksperimen yang belum stabil

proses installnya lebih rumit (dan biasanya selalu memerlukan sambungan Internet), update windows juga butuh internet kan pak? apa ada DVD repo update windows? dan yang paling menyebalkan adalah kita dipaksa restart setelah update, it REALLY SUCKS. lagipula kenapa kalau butuh internet, sekarang internet di Indonesia pun makin murah, justru dengan adanya open source semakin banyak yang melek teknologi, semakin banyak yang butuh internet sehingga pasar semakin besar dan harga koneksi internet bisa ditekan

driver tidak selalu tersedia (apalagi pada perangkat hardware yang baru) , ya sama aja lah pak, di windows juga gitu gak semua drivernya ada.

kalau
ada masalah, yang akan membantu adalah komunitas, dan tidak ada jaminan
kapan masalahnya bisa terpecahkan (apalagi jika masalahnya baru)
, Apakah ada kepastian dari microsoft misalnya ketika ada update microsoft yang bentrok dengan aplikasi saya, apakah ada kepastian kapan masalah itu bisa terpecahkan?

aplikasi-aplikasi tertentu tidak tersedia. Kalaupun ada, mungkin masih dalam bentuk eksperimen yang belum stabil, boleh tahu contohnya pak?

Walaupun demikian, Red Hat masih belum menambahkan nilai yang cukup
penting terhadap perangkat lunak Open Sourcenya, karena kekuatan
sebenarnya dari Open Source adalah komunitas.

Wah kemana saja pak selama ini? RedHat belum memberikan nilai yang cukup penting? banyak project yang kontributornya adalah karyawan redhat, jadi bukan sekedar “memanfaatkan” komunitas tapi benar-benar ikut kontribusi ke komunitas.

Contoh perusahaan-perusahaan lain yang memanfaatkan Open Source sebagai
sarana untuk menjual produknya (yang berbayar) adalah IBM dan SUN.
Namun mereka belum bisa menemukan formula yang tepat, sehingga
pendapatan perusahaan dan nilai saham totalnya mengalami penurunan
terus menerus…

Apakah ada bukti bahwa turunnya pendapatan dan nilai saham total karena penjualan “open source” yang belum menggunakan formula yang tepat?

Pertanyaan saya, kemana aja pak lima tahun terakhir?

4 thoughts on “dilema open source? yang bener ajah

  1. Salam kenal,

    Respon yang menarik, tapi saya sebenarnya lebih ke level aplikasi open source, bukan sistem operasi.

    Saya melihat sendiri bagaimana banyak orang-orang masih menggunakan solusi dual boot terutama pada saat presentasi, dan kekurangan aplikasi OSS yang user friendly/bagus untuk keperluan industri kreatif seperti studio musik/rekaman/foto/animasi movie dsb…

    Jika anda punya info aplikasi2 OSS (jalan di Linux atau bukan) yang bagus untuk keperluan2 di atas (artinya bisa diterima oleh kalangan awam), bagus juga kalau bisa dishare ke saya.

  2. Salam kenal balik pak tony
    bukankah driver itu pada level Sistem Operasi pak?

    Saya kurang famliar dengan industri multimedia pak. untuk rekaman saya pernah coba audacity sudah cukup ok. kalau dibandingkan dengan Adobe Soundbooth atau Adobe Audition tapi ok lah

    Untuk Foto kelihatannya banyak pak. mmm gwenview?

    Animasi film, blender, povray dkk pak

  3. beberapa waktu k depan saya ada seminar mengenai “Be inovative with open source” dengan 3 pakar baik dari open source, SUN, dan IBM. Niat saya sih, “menjatuhkan” mereka tanpa mendiskreditkan mereka. ada 3 hal yg mau saya tanyakan:

    1. Apa makna FREE bagi open source. Gratis atau bebas? Yg mjd basic pemikiran adalah ketika seorang user membeli SW berlisensi, maka ia mendapatkan hak untuk full support n help2 lainnya. Pernah instal adobe photoshop dan setelah instal anda direkomendasikan utk register dgn sejumlah keuntungan2? Walaupun mereka cek lagi produk anda asli ato gak. tapi setidaknya itu sudah menggambarkan sesuatu mengenai “beli lisensi”. Nah, ekstrem nya, jika produknya aja FREE, otomatis user akan menganggap bahwa support nya juga FREE. saya tanya, apa mau programmer open source (java khususnya) KGK DIBAYAR? belum lagi jika komplain terus datang silih berganti.

    2. Open Source itu murah di mana nya?
    Masih berkaitan dengan poin 1, jika dibandingkan programmer Java bersertifikat internasional dengan programmer .NET bersertifikat internasional juga, jelas programmer JAVA LEBIH MAHAL TARIF nya. Ekstreme nya gini, ketika programmer tinggal drag n drop aja di IDE .NET, dan dibandingkan dgn programmer java menggunakan eclipse atopun netbeans, siapa yg minta bayaran lebih tinggi utk menyelesaikan program yg jumlah formnya 10 aja dah minimal?

    3. Apa sih yg open source jual?
    Saya termasuk programmer .NET walaupun sering juga saya menghandle java. Saya punya perbandingan, dalam 6 bulan saya bisa makan 3 proyek .NET. Sedangkan netbeans di laptop saya dlm 8 bulan terakhir blm makan proyek lagi. Wong yg dicari perusahaannya kebanyakan .NET kok. lantas saya tanya ketika mereka ingin java, “bapak lebih mementingkan apa di program ini? kecepatan?” kalau kecepatan yg diprioritaskan, saya malah nawarin pke C++. Dari segi apapun C/C++ lebih oke. Kecuali kalau alasan mereka adalah cross platform, barulah saya kerja pke netbeans. (walopun di linux ada grasshopper utk menjalankan .net application – blm saya buktikan kehandalannya)
    Ekstremnya, jika saya bergantung terus kepada open source yg mengandalkan kekuatan komunitas, gimana saya bisa bertahan hidup?

    So, intinya, proprietary memang seakan “membodohi” para programmer maupun developer spt saya. Saya tidak mengerti kehebatan dibalik framework .NET yg bener2 dahsyat. tapi buat apa saya pikirkan, toh program yg saya buat utk memenuhi kebutuhan hidup saya. mungkin ada rasa bangga berhasil membuat project open source, tapi rasa bangga itu gak menjual man!

    Byk perusahaan yg akhirnya mengeluh setelah migrasi k open source. Memang, awalnya murah, investasi awal terjangkau. Tapi belakangan, wkwkwkwk, mana mau supportnya kgk dibayar. apalagi klo ia bersertifikasi internasional. jelas aja dia bakal ngomong: “cih, ogah bgt. dah jelas gaji standar gw lebih tinggi dari .NET”

    Hehehe… ada yg bisa memberi jawaban memuaskan sebelum 3 hal di atas saya tanyakan kepada mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s